Seperti diketahui, sejak 2017 Indonesia telah mencanangkan agenda besar transformasi digital nasional. Elemen yang paling menentukan berhasil tidaknya program tersebut tentunya adalah penggunaan internet yang semakin massif dan terintegrasi. Johnny Plate selaku Menkominfo 2019-2024 memandang rupanya program pendahulunya adalah jalan yang tepat untuk mewujudkan hal itu.
Program itu tak lain dari Smart City. Apa itu Smart City sehingga Johnny Plate memandang perlu dituntaskan? Smart City merupakan bagian dari implementasi Internet of things (IoT) di Indonesia. Objek dari program Smart City di Indonesia adalah masyarakat, pemerintah, dan infrastruktur kota. Intinya, Smart City bertujuan untuk mengintegrasikan informasi dari ketiga objek di atas untuk pelayanan yang efisien.
“Tahun ini kami terus memfasilitasi penciptaan dari 48 Master plan smart city di Daerah Pariwisata Super Prioritas (DPSP), seperti di Bali dan Labuan Bajo NTT serta calon ibu kota negara baru Indonesia di Penajem Paser Utara, Kalimantan,” kata Menkominfo Johnny Plate dalam Pertemuan Menteri Digital G20 secara virtual, (05/08).
Tersirat dalam ucapan Menteri Johnny bahwa Kominfo sangat siap untuk mewujudkan Transformasi Digital Nasional sesegera mungkin melalui penuntasan program Smart City.
“Terdapat 6 pilar yang menjadi dasar pelaksanaan program pengembangan smart city di Indonesia yakni: (i) smart governance; (ii) smart branding; (iii) smart economy; (iv) smart society; (v) smart environment; dan (vi) smart living. Dengan mencakup enam aspek ini, kota-kota yang dipersiapkan untuk smart city diharapkan menjadi tempat yang cerdas untuk membantu keberlanjutan produktivitas masyarakat,” jelas Johnny lebih lanjut seperti dikutip dari indonesiatech.id.
6 Indikator Smart City
Keenam pilar versi Menteri Johnny tersebut merupakan penyesuaian lebih lanjut atas 6 indikator Smart City menurut Bee Smart City, sebuah komunitas yang berbasis di Jerman dalam halaman website mereka di sini: Bee Smart City. Menurut website tersebut, berikut inilah 6 indikator Smart City.
Smart Economy
Mendorong berkembangnya ekonomi melalui industri kreatif pada bidang digital, merupakan contoh dari pengembangan Smart Economy. Dengan memanfaatkan teknologi digital, banyak peluang usaha baru yang muncul dan tak jarang yang menghasilkan solusi efektif untuk suatu masalah perkotaan.
Namun, solusi tidak berhenti pada industri kreatif saja. Keseluruhan iklim bisnis juga perlu diperhatikan. Pada intinya, bagaimana cara pemerintah dan masyarakat bekerja sama untuk menarik investor, dan meningkatkan daya tarik kota. Akhirnya, akan membuka lapangan kerja baru, percepatan pertumbuhan ekonomi, dan keuntungan ekonomi lainnya.
Smart Environment
Waste management, water management, dan energi alternatif yang ramah lingkungan menjadi objek untuk dikembangkan. Misalnya, kini pemerintah Indonesia sedang gencar mengurangi sampah plastik.
Berbagai cara dilakukan untuk mendaur ulang sampah plastik dan memperlambat pertumbuhannya. Salah satunya dengan mengembangkan plastik sebagai campuran aspal untuk jalanan. Untuk merespon tindakan baik pemerintah tentang pengurangan sampah plastik, kini banyak rumah makan / restoran yang tidak lagi memberikan sedotan dalam paket penjualan.
Smart Government
Sebagai salah satu agen terpenting Smart City, pemerintah harus dapat memfasilitasi perubahan, dan perkembangan social dengan baik. Misalnya, lewat regulasi ekonomi strategis yang dibuat untuk mendorong perkembangan UKM & industri kreatif. Atau dengan regulasi denda elektronik dengan memanfaatkan teknologi untuk mengurangi campur tangan oknum yang tidak bertanggung jawab.
Hasilnya, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah serta transparansi akan tercipta. Apalagi, setelah populernya system Blockchain, transparansi transaksi akan bisa dilacak oleh masyarakat dengan mudah.
Smart Living
Bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat menjadi indikator selanjutnya. Memberikan fasilitas berupa informasi tentang kesehatan, mengembangkan kurikulum melek digital, dan membangun fasilitas ramah difabel merupakan beberapa cara untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Misalnya, dengan melek digital, masyarakat dapat mengurangi penyebaran berita bohong atau Hoax yang marak terjadi di Indonesia.
Dengan berkurangnya informasi bohong, masyarakat akan diuntungkan dengan informasi yang valid dan benar adanya. Contohnya informasi tentang bencana alam. Jika masyarakat melek digital, mereka dapat mengakses situs institusi terkait bencana seperti BMKG. Mereka dapat mengetahui status bencana dari sumber yang terpercaya.
Smart Mobility
Berfokus pada peningkatan kualitas transportasi bagi masyarakat urban. Apalagi, kemasyhuran Jakarta sebagai kota macet, MRT & LRT dipandang sebagai solusi pengurai macet Jakarta.
Lalu, bagaimana dengan kota selain Jakarta? Bagaimana menjalankan Smart Mobility? Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, bahwa masalah setiap kota itu berbeda. Maka, berbeda pula fokus, prioritas, dan solusinya. Misalnya, kota yang memiliki potensi pertanian, bisa mengembangkan teknologi yang mendukung pertanian. Contohnya, mendorong para petani untuk menjual hasil panennya melalui e-commerce. Sudah ada TaniHub yang menyediakan platform e-commerce bagi petani untuk menjangkau lebih banyak pembeli.
Smart People
Bagaimana bisa menjalankan Smart City di Indonesia kalau masyarakatnya belum smart? Semua indikator kuncinya yaitu pada kualitas masyarakat dan pemerintahnya. Tanpa ada kerjasama dari kedua pihak, mustahil Smart City di Indonesia bisa berjalan dengan baik.
Setiap indikator tidak bisa berjalan sendiri. Masing-masing dari indikator tersebut memiliki peran masing-masing dan saling keterkaitan satu dengan yang lainnya. Misalnya, untuk terciptanya Smart Economy, diperlukan Smart People untuk bisa berjalan. Smart Living membutuhkan Smart Government untuk membentuk regulasi yang mendukung dan mempermudah terlaksananya program.
Dari ke-6 indikator di atas, terdapat 2 yang disesuaikan oleh Menteri Johnny yakni Smart Mobility dan Smart People. Oleh Menteri kelahiran NTT tersebut, keduanya diganti dengan Smart Branding dan Smart Society. Smart People diganti dengan Smart Society sepertinya karena Pak Menteri melihat karakter gotong-royong yang ada pada bangsa ini. Sementara Smart Mobility digantinya dengan Smart Branding karena berbeda dengan Jerman, negeri kita adalah negeri yang sedang berkembang. Mobilitas masyarakat di negara berkembang seperti kita masih terkendala infrastruktur pendukung. Selain itu, sebagai negara berkembang, sangat rentan untuk dipandang sebelah mata di level internasional. Maka dari itu, membangun branding adalah sebuah kemutlakan.
Apa yang dibuat Johnny Plate walau cuma meneruskan program pendahulunya tersebut patut diberi apresiasi. Tidak banyak pejabat yang mau menuntaskan apa yang dimulai pendahulunya. Umumnya coba cari panggung diri dengan ciptakan sebuah program baru. Tidak demikian dengan Johnny Plate.
Merasa bahwa program pendahulunya adalah langkah tepat untuk mewujudkan Transformasi Digital Nasional, dia pun tak sungkan untuk meneruskannya, tepatnya menuntaskan, sebab meski diinisiasi oleh Rudiantara, program Smart City baru dieksekusi di era Johnny Plate. Inilah sikap negarawan sejati. Orang seperti ini patut didukung penuh kiprahnya.
Bentuk dukungan publik tak perlu yang spesifik namun cukup dengan aktif mengasah kemampuan berselancar di internet serta kecakapan bersosialisasi diri di dunia maya. Dengan begitu, secara tak langsung kita mengurangi hoax, hatespeech dan intoleransi serta segala bentuk kejahatan dunia maya di ruang lingkup wilayah kerja Kemkominfo. Dari situ Johnny Plate bisa beroleh prestasi dengan sendirinya. Bukan, begitu?(*)













































Komentar