Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate menjelaskan, masalah stunting saat ini sangat jarang diketahui oleh para orang tua terutama pasangan muda. Demi meminimalisasi prevalensi stunting di Indonesia, pemerintah melakukan berbagai intervensi gizi spesifik dan sensitif.
Stunting adalah kondisi kekurangan gizi pada bayi di 1.000 hari pertama kehidupan yang berlangsung lama dan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak. Karena mengalami kekurangan gizi menahun, bayi stunting tumbuh lebih pendek dari standar tinggi balita seumurannya.
Indonesia bahkan termasuk negara dengan prevalensi stunting kelima terbesar di dunia. Berdasarkan Data Survei Status Gizi Balita Indonesia (2019). Angka prevalensi stunting di Indonesia adalah sebesar 27,67 persen di atas angka standar yang ditoleransi WHO yaitu di bawah 20 persen.
Percepatan penurunan stunting menjadi prioritas pembangunan yang dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 72 tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting. Angka prevalensinya ditargetkan dapat diturunkan menjadi 14 persen di tahun 2024.
BKKBN dibantu Kementerian Komunikasi dan Informatika melakukan strategi komunikasi publik agar masyarakat memiliki kesadaran yang lebih baik mengenai isu terkait stunting dengan amplifikasi pesan kunci melalui ajakan, sosialisasi, maupun edukasi kepada target audiens seperti remaja perempuan, ibu hamil, pasangan suami-istri muda, serta masyarakat digital yang relevan.
Intervensi gizi spesifik terdiri dari berbagai program yang bertujuan untuk menanggulangi penyebab langsung masalah stunting, sementara intervensi gizi sensitif merupakan kelompok program yang bertujuan untuk menanggulangi berbagai penyebab tak langsung dari stunting.
Adapun pesan kunci pencegahan stunting di Indonesia yakni sosialisasi terkait kehidupan 1.000 hari kehidupan untuk anak kepada ibu hamil dan pasutri muda melalui informasi edukatif terkait stunting.
(Indonesiatech)








































Komentar